Wednesday, September 20, 2023

Menara Masjid dan Sejarahnya

  Menara Masjid dan Sejarahnya 



*Pemahaman Awal


Menara masjid (bahasa Arab: مئذنة, translit. midhana, dari kata منارة translit: manāra, har: "mercusuar")adalah arsitektur berupa menara yang berada di areal masjid. Umumnya berupa menara tinggi dengan kerucut atau mahkota berbentuk bawang, biasanya berdiri sendiri atau lebih tinggi dari struktur di sekitarnya. Bentuk dasar dari menara ini mencakup dasar, poros, dan galeri.


 Gayanya bervariasi sesuai wilayah dan periode waktu. Menara memberikan titik fokus visual dan secara tradisional digunakan untuk panggilan salat bagi Muslim (Azan).



*Fungsi


Tujuan dari arsitektur menara masjid tradisional di Wilayah Timur adalah sebagai sistem ventilasi suatu bangunan pada iklim yang panas. 


Biasanya, bangunan ini terdiri dari sebuah menara besar dengan jendela membuka yang memungkinkan udara dingin masuk, dan sebuah kubah di tengah-tengah bangunan yang memiliki bukaan di langit-langit yang (secara hipotetis) berfungsi mengakumulasi dan mengalirkan udara hangat ke luar bangunan melalui sebuah cungkup.


Asal-usul bangunan dari timur tengah dengan fitur arsitektur yang luar biasa adalah disengaja. Masjid-masjid biasanya memiliki pusat ruangan dengan langit-langit tinggi atau kubah sehingga memungkinkan panas terkumpul dan mengalir ke atas dan membiarkan udara dingin di lantai bawah memungkinkan untuk sistem penyejuk udara alami.



Namun, pada zaman modern, dengan penemuan penyejuk udara modern, tujuan dari menara telah berubah menjadi simbol tradisional. 


Menara kini dilengkapi dengan pengeras suara berfungsi untuk memanggil orang-orang untuk sholat di negara-negara Muslim. Selain itu untuk memberikan isyarat visual untuk komunitas Muslim, fungsi utama saat ini adalah untuk memberikan sudut pandang dari mana panggilan salat, atau azan, dilakukan. 


Adzan dikumandangkan lima kali setiap hari: fajar, tengah hari, sore hari, matahari terbenam, dan malam. Pada masjid-masjid paling modern, adhān dikumandangkan dari musallah (ruang doa) melalui mikrofon ke sistem pengeras suara pada menara.




Sejarah Menara Masjid 


Pada awalnya Masjid tidak memiliki Menara, dan azan dilakukan di tempat lain; hadits menyebutkan bahwa umat Muslim di Madinah melakukan azan dari atap rumah Nabi Muhammad, yang juga sebagai tempat untuk berdoa. Sekitar 80 tahun setelah kematian Nabi Muhammad, baru muncul menara pertama yang dikenal.


Menara yang dikenal sebelum Islam dimanfaatkan terutama di Timur Tengah dan Mesopotamia, disebut Ziggurat, kemudian di Gereja-Gereja Suriah.


Menara memiliki berbagai bentuk (pada umumnya bulat, segi empat, spiral atau segi delapan) sesuai fungsi infrastruktur masing-masing arsitektur.


Jumlah Menara masjid pada tiap-tiap Masjid tidak sama: awalnya, satu Menara menemani setiap Masjid, selanjutnya pembuat akan merekonstruksi beberapa buah lagi. Alasan utama berkisar pada estetika, simetri, keinginan untuk menonjolkan fitur arsitektur yang kuat, serta jaminan desain yang stabil.


Sejak lama, Masjid Agung Mekah (masjidil haram) di Mekkah adalah satu-satunya yang memiliki enam Menara. Namun, ketika Kesultanan Utsmaniyah membangun Masjid Biru di Istanbul, mereka membangun enam Menara. Menara ketujuh masjid ini dibangun di Mekkah, dalam rangka agar Masjidil Haram tidak dapat dikalahkan. Namun adzan biasanya dilakukan dari satu Menara.


Menara digambarkan sebagai "gerbang dari surga dan bumi", pada abjad bahasa arab huruf alif (berupa garis lurus vertikal).


Di wilayah Arab Maghrib, Menara yang tertua adalah dari Masjid Agung Kairouan di Tunisia. Menara tertua yang masih berdiri dalam dunia Muslim dan juga tertua di dunia. pembangunan Masjid Agung Kairouan, yang kemungkinan dimulai pada awal abad ke-8, dapat ditilik kembali ke pertengahan pertama abad ke-9 (menjelang 836) menurut pendapat kebanyakan para arkeolog.


 Didasari oleh tiga tingkat dengan lebar mengecil mencapai ukuran 31,5 meter, yang dapat dibedakan dari aspek ukuran dan megah, Masjid ini dianggap sebagai purwarupa dari Menara-menara yang ada di Dunia Islam Barat .


Sejarah juga telah memicu perubahan tujuan pada tempat-tempat ibadah, dan terutama di sekitar Mediterania. Ketika sebuah Gereja berubah menjadi Masjid, Menara Lonceng berubah menjadi Menara masjid, demikian pula ketika bekas Katedral, menjadi Masjid Almohad, di Seville, lalu berubah lagi menjadi Katedral Seville, Menara masjid Giralda menjadi Menara Lonceng. Ini adalah gaya khas transformasi dari tempat ibadah.


Menara tertinggi, setinggi 210 meter (689 kaki) terletak di Masjid Hassan II di Casablanca, Maroko. 


Pada beberapa masjid tertuaa, seperti Masjid Agung Damaskus, menara awalnya berfungsi sebagai menara pengawas yang disinari (oleh karena itu derivasi kata dari bahasa Arab nūr, berarti "cahaya")

___

Cat :

No comments:

Post a Comment