Saturday, March 8, 2014

Pemilu 2014 : Kepemimpinan dalam Tinjauan Islam (Post.2)

#SELAMAT PARA KAUM MUSLIMIN MUSLIMAT#
(Menyimak kepemimpinan dalam Islam dalam hubungannya
dengan Pemilihan Presiden RI 2014)
______________________________________________________









________________

Kata Pengantar 
________________

Assalamu'alaikumwarahmatullahiwabarakatuh...!

Tulisan ini adalah pendalaman dari Pemilu Indonesia 2014
dalam hubungannya dengan waktu, jadwal, calon, sejarah dan
lagu-lagu Pemilu yang sudah penulis postingkan di link :
http://angkolafacebook.blogspot.com/2014/03/pemilu-2014-seputar-jadwal-waktu-nama.html

Juga pendalaman dari Pemilu 2014 dalam hubungannya dengan
Kepemimpinan wanita dalam tinjauan Islam dalamhubungannya
dengan Pemili 2014 dan telah di postingkan
lewat link :
http://galeri1msad.blogspot.com/2014/03/pemilu-2014-kepemimpinan-wanita-dalam.html

Setelah mengurai mengenai kedua postingan di atas, maka
timbul pertanyaan bagi penulis, "Bagaimana sebenarnya kepemim
pinan dalam Islam dalam arti "Pemimpin sebagai Khalifah dalam
arti khusus dan pemimpin sebagai ummat dalam arti umum. Dan
bagaimana pula kepemimpinan dalam Islam dalam hubungannya
dengan Pemilu Presiden 2014...? adalah isi dari postingan
ini.

Semoga info memberi manfaat dalam perluasan wawasan ke
Islaman dan selamat menyimak...!

_____________________________________

Pengertian Kepemimpinan dalam Islam
_____________________________________




















Menurut hemat penulis, pengertian "Kepemimpinan dalam Islam
sungguh sangat luas. karena itu penulis hanya melihatnya
dari dua sisi yaitu pengertian pemimpin sebagai khalifah
dan pengertian pemimpin sebagai ummat.

1. Pemimpin sebagai Khalifah (Hanya ummat muslim tertentu)

"Dalam Islam pemimpin disebut dengan Khalifah. Khalifah
(Ar.: Khaliifah adalah wakil, pengganti atau duta). Sedangkan
secara istilah Khaliifah adalah orang yang bertugas menegakkan
syariat Allah SWT, memimpin kaum muslimin untuk menyempurnakan
penyebaran syariat Islam dan memberlakukan kepada seluruh kaum
muslimin secara wajib, sebagai pengganti kepemimpinan
Rasulullah SAW.

Demikian situs :
http://www.akhbarislam.com/2013/07/pemimpin-menurut-islam.html
mengartikan Pemimpin dalam tinjauan Islam.

selanjutnya dikatakan :

Seorang pemimpin harus memiliki sifat STAF, yaitu :

Shidiq (selalu berkata dan berikap jujur dan benar)
Tabligh (accountable dan auditable)
Amanah (credible dan capable)
Fathanah (smart dan visioner)

2. Pemimpin sebagai ummat (Semua ummat muslim)

Kalian semua adalah pemimpin, bertanggung jawab atas
kepemimpinannya, Amir yang dipilih oleh manusia adalah
pemimpin, dia bertanggung jawab atas kepemimpinannya,
seorang laki-laki menjadi pemimpin bagi keluarganya,
dia akan ditanya tentang kepemimpinannya, wanita adalah
pemimpin di rumah suaminya dan anak suami, dia akan
ditanya tentang kepemimpinannnya, seorang budak menjadi
pemimpin untuk memelihara harta majikannya, diapun akan
ditanya tentang hartanya, ketahuilah masing-masing kalian
adalah pemimpin, kalian akan ditanya tentang kepemimpinan
kalian. (HR. Bukhari 2368).

Demikian situs :
http://maktabahabiyahya.wordpress.com/2012/08/28/kepemimpinan-dalam-islam/

menguraikan kepemimpinan dalam arti umum di atas.
Selanjutnya dipertegas :

Syaikh Abdul Aziz bin Baz berkata: “Tidak diragukan bahwa
dengan adanya pemimpin yang ditaati, kehidupan lebih aman
dan jauh dari fitnah”. (Lihat Murajaat fi Fiqhil Waqi’ hal: 9).

Hasan Bashri berkata: “Demi Allah tidaklah tegak agama Islam ini
melainkan dengan pemimpin, sekalipun dia berbuat curang atau
zalim. Demi Allah, dengan adanya pemimpin, kebaikannya lebih
banyak daripada kerusakannya. Demi Allah, mentaati pemimpin
adalah kecemburuan, sedangkan durhaka kepadanya adalah keingkaran.
(Lihat kitab Adabul Hasan Al-Bashri oleh Ibnu Jauzi hal. 121).
______________________________________________

Syarat menjadi Pemimpin sebagai khalifah dalam Islam 
______________________________________________

Situs lewat alamat :
http://maktabahabiyahya.wordpress.com/2012/08/28/kepemimpinan-dalam-islam/
mengatakan syarat jadi pemimpin adalah seorang muslim,
berilmu, laki-laki dan sehat fisik.

Terhadap syarat ini dikitakan :

1. Muslim

Seorang pemimpin disyaratkan harus seorang muslim, karena
merekalah pemegang amanat dan keadilan. Allah berfirman:

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman
di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa
Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi,
sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum
mereka berkuasa. (QS. An-Nur: 55).

Dan orang non muslim tidak boleh mengemban kepemimpinan,
Allah berfirman:

Janganlah orang-orang mu’min mengambil orang-orang kafir menjadi
wali dengan meninggalkan orang-orang mu’min. (QS. Ali-Imron: 28).

2. Berilmu

Seorang pemimpin harus memiliki ilmu tentang hukum-hukum syariat
Islam dan juga ilmu politik dalam mengatur urusan manusia. Allah
berfirman:

Nabi (mereka) berkata: “Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu
dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa”.
(QS. Al-Baqarah: 247).

Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata dalam Tafsirrnya (1/264):
“Dari ayat di atas dapat diketahui bahwa seorang pemimpin hendaknya
memiliki ilmu dan kekuatan badan”.

Imam Syaukani berkata: “Apa yang dapat dilakukan oleh seorang
pemimpin ketika mendapati problematika rakyat apabila dia seorang
yang jahil? Minimal dia akan diam dan bertanya kepada orang alim
padahal dia tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah.

Tidak demikian, Allah memeritahkan pada seorang pemimpin, tetapi
hendaknya dia memutuskan masalah dengan kebenaran dan keadilan. . .”.
(Nailul Authar 8/618).

3. Laki-Laki

Allah berfirman:
Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena
Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian
yang lain (wanita). (QS. An-Nisa’:34).

Dan Imam Bukhari meriwayatkan dalam Shahihnya (No. 4073) dari Abu
Bakrah ssgi berkata: Tatkala ada berita sampai kepada Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa penduduk Persia menyerahkan
kepemimpinan kepada putri Qaisar, maka Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda:

Tidak akan bahagia suatu kaum, bila mereka menyerahkan kepemimpinan
mereka kepada wanita.

Imam Al-Baghawi dalam Syarh Sunnah (10/77): “Para ulama bersepakat
bahwa seorang wanita tidak boleh menjadi pemimpin, karena seorang
pemimpin dia perlu keluar menegakkan perintah jihad serta urusan
kaum muslimin dan menyelesaikan pertikaian manusia, sedangkan
wanita adalah aurat, tidak boleh menampakka diri, dia juga lemah
untuk mengurus segala kepentingan. Dengan demikian, maka tidak
layak mengemban kepempinan kecuali kaum laki-laki”.

4. Sehat fisik

Dalam halaman yang sama Imam Baghawi juga mengatakan: “Demikian
pula seorang pemimpin tidak boleh buta matanya sebab dia tidak
dapat membedakan orang yang sengketa. Adapun riwayat Nabi mengangkat
Ibnu Ummu Maktum di Madinah dua kali, itu hanyalah kepemimpinan
shalat, bukan masalah memutuskan dan menghakimi”.
____________________________________________________

Cara umum penetapan (Metode) ummat Islam dalam 
memilih pemimpin dalam arti khusus (Khalifah)
____________________________________________________

Situs dengan alamat :
http://maktabahabiyahya.wordpress.com/2012/08/28/kepemimpinan-dalam-islam/

mengatakan beberapa hal yang perlu diperhatikan mengenai
pemilihan pemimpin ini dalam hubungannya dengan metode umum
(Pemilu) dalam suatu negara, antara lain :

1. Imam sebelum meninggal dunia boleh menunjuk penggantinya

Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata: dikatakan kepada Umar:
“Mengapa engkau tidak menentukan khalifah (pengganti beliau),”,
beliau menjawab:

Jika aku menentukan khalifah, maka sungguh telah menentukan khalifah
orang yang lebih baik daripadaku, yaitu Abu Bakar. Jika aku biarkan
penentuan khalifah ini, sungguh orang yang lebih baik daripadaku
telah membiarkannya, yaitu Rasulullah SAW. (HR.Bukhari 6674).

Imam An-Nawawi berkata: “Orang Islam telah bersepakat bahwa apabila
khalifah akan meninggal dunia boleh berwasiat menunjuk khalifah
sebagai gantinya, dan boleh juga tidak berwasiat”.
(Lihat Syarah Muslim 12/523-524).

Imam Al-Baghowi berkata: “Apabila imam meninggal dunia, sebelumnya
ia telah mengangkat imam, seorang laki-laki yang shalih, maka dia
berhak menjadi khalifah”. (Syarhus Sunnah, 10/81).

2. Berdasarkan musyawarah ulama yaitu Ahlul Halli wal Aqdi 
    (semacam dewan yang memiliki otoritas)

Imam Al-Baghowi berkata: “Jika imam meninggal dunia,
(bila sebelumnya, -adm) dia tidak mengangkat imam sebagai gantinya,
maka wajib bagi Ahlul Halli wal Aqdi (pemegang otoritas) berkumpul
untuk membai’at seorang laki-laki yang shalih guna mengatur pemerintahan,
sebagaimana para sahabat bersepakat untuk memilih khalifah Abu Bakar
setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat.
(Syarhus Sunnah, 10/81).

Ahlu Halli wal Aqdi bukanlah parlemen dalam sistem demokrasi, sehingga
pembentukannya tidak lewat pemilihan umum (lihat kitab Ahlu Halli wal
Aqdi Sifatuhum wa Wadha’ifuhum, DR. Abdullah bin Ibrahim At Thariqi-red).

3. Imam menunjuk beberapa ulama, sebagaiAhlul Halli wal Aqdi, untuk 
    dipilih salah satu di antara mereka setelah imam meninggal dunia

Sahabat Umar ketika akan meninggal dunia ditanya oleh para sahabat:
“Wahai Amirul mukminin, tentukan penggantimu?” Lalu beliau menjawab:

Tidaklah aku menjumpai seorangpun yang berhak menjadi khalifah
daripada orang-orang yang ketika Nabi Wafat, beliau meridloi mereka.
Lalu Umar menyebut namanya: Ali, Utsman, Zubair, Thalhah, Sa’d dan
Abdurrahman. Selanjutnya Umar berkata: “Abdullah Ibnu Umar telah
menyaksikan kalian”. (HR.Bukhari 3424).

Ibnu Hajar berkata: “Umar memandang khalifah ini berdasarkan musyawarah
kaum muslimin, dengan menunjuk enam orang, agar beliau tidak mengabaikan
jejak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak pula mengabaikan
jejak Abu Bakar. Beliau mengambil sebagian jejak Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam dengan tidak menunjuk gantinya secara khusus, dan sebagian
mengambil dari Abu Bakar dengan menunjuk enam orang, agar mereka memilih
salah satu diantara mereka”. (Fathul Bari 13/256).

4. Membai’at imam yang telah mengalahkan pemimpin yang lain

Barangsiapa menggulingkan pemimpin, lalu dia diangkat menjadi
khalifah dan disebut amirul mukminin, maka tidaklah halal bagi orang
beriman kepada Allah dan hari akhir melainkan dia harus membai’atnya,
sekalipun itu curang. (Lihat Tabaqotul Hanabilah 1/241).

Sahabat Ibnu Umar enggan membai’at Ibnu Zubair atau Abdul Malik,
maka tatkala Abdul Malik mampu menakhlukkan Ibnu Zubair, sedangkan
situasi menjadi aman dan stabil, lalu Ibnu Umar membai’atnya.
(Lihat Al-I’tishom 2/626).

Namun cara seperti ini tidak otomatis dianggap sah, sebab kudeta
tidak dikenal oleh Islam, berdasarkan dalil-dalil yang banyak
supaya kita mentaati pemimipin dan tidak boleh memberontak,
kecuali ada sebab yang dibenarkan syari’at.

Nafi’ berkata: “Tatkala penduduk Madinah ingin menggulingkan Yazid
bin Muawiyah, Ibnu Umar  radhiyallahu ‘anhuma mengumpulkan kerabat
dan anak-anaknya, lalu dia berkata:

“Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Akan ditancapkan bendera bagi setiap penghianat besok pada hari kiamat“.

Kita sudah membai’at orang ini diatas bai’at Allah dan Rasul-Nya,
sungguh aku tidak mengetahui penghianatan yang lebih besar
dibandingkan bila imam sudah dibai’at atas bai’at Allah dan Rasul-Nya
lalu digulingkan”. (HR. Bukhari 6575).

5. Membaiat imam yang telah disepakati oleh kaum muslimin

Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma  berkata: “Aku pernah
mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Barangsiapa enggan taat kepada pemimpin yang telah dibai’at, dia
akan berjumpai Allah besok pada hari kiamat tidak punya alasan,
barang siapa meninggal dunia sedangkan dia tidak membai’atnya, dia
mati seperti mati jahiliyah. (HR. Muslim 3441).

Imam Al-Hasan Al-Barbahari dalam “Syarh Sunnah” berkata:
“Barangsiapa menjadi kholifah dengan kesepakatan kaum muslimin
dan mereka ridha, dia itu amirul mukminin. Yang bermalam saat itu
harus membaiatnya, walaupun kholifah itu maksiat. Demikianlah
fatwa Imam Ahmad”.

4. Jika masing-masing negara ada seorangamirul mukmin, wajib 
    kita mentaatinya

Ibnu Taimiyah berkata: “Menurut sunnah seharusnya orang muslim
di dunia ini hanya memiliki satu imam, sedangkan yang lain wakilnya.
Tetapi apabila ditetapkan bahwa umat ini telah keluar dari ketentuan
di atas, karena kemaksiatan dan kezaliman, lagi tidak mampu mengurusi
yang lain, atau karena ada penyebab lain, sehingga m.asing-masing
negeri mempunyai satu imam, maka wajib imam negeri itu menegakkan
hukum di negerinya dan menjalankan tugasnya…”.
(Majmu Fatawa Ibnu Taimiyah 35/175-176).

5. Membaiat imam yang jelas

Syaikh Ibnu Taimiyah berkata: “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam memerintah agar mentaati imam yang ada, yang jelas,
yang memiliki kekuasaan, mampu menguasai politik negara.
Bukan mentaati imam yang sembunyi (bawah tanah-red), dan tidak
mentaati orang yang tidak memiliki kekuasaan, dan tidak memiliki
kemampuan untuk mengatur urusan”.
(Lihat Minhjus Sunnahl/115, diringkas dari kitab Muamalatul Hukkam
oleh Abdus Salam bin Barjaz hal. 15-30 dan Huququ Wulatil Amri hal. 13-20).
______________________________________________________

Kewajiban atau ketaatan setelah terpililih menjadi pimpinan
dalam arti khsus (khalifah)
______________________________________________________

Kewajiban pemimpin banyak sekali, antara lain:

1. Taat kepada Allah dan Rasul-Nya.

Taat  kepada Allah dan RasulNya bukan hanya kewajiban rakyat, tetapi
kewajiban pemimpin pula karena keumuman ayat diatas.

2. Mengajak umat agar beribadah kepada Allah dan 
    memberantas kesyirikan.

Inilah satu-satu(nya) tugas yang paling pokok, yang dipikul oleh
pemimpin agar mengajak umat beribadah kepada Allah Ta’ala dan
memberantas semua bentuk kesyirikan dan sarananya sebagaimana yang
telah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan
khulafaur Rasyidin sesudahnya sebagaimana disebutkan dalam surat
Al-Baiyainah ayat. 5

3. Berbuat adil

Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang
berhak menerimanya,  dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum
di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. (QS. An-Nisa’: 58).

Shahabat Ali radhiyallahu ‘anhu berkata: “Imam yang menghukumi manusia
dengan adil dan menunaikan amanat, wajib ditaati”.
(Lihat Tafsir Al-Qurthubi 5/258 dan Tafsir Al-Baghawi 2/204).

4. Melaksanakan hukum Allah

Pemimpin utama adalah Allah, sedangkan pemimpin manusia adalah
khalifah tullah di permukaan bumi, dia bertugas melaksanakan hukum
Allah dan menyeru manusia untuk berhukum dengan hukum Nya. FirmanNya:

Maka patutkah aku mencari hakim selain daripada Allah, padahal
Dialah yang telah menurunkan kitab (Al Qur’an) kepadamu dengan
terperinci. (QS. Al-An’am: 114).

5. Menasehati masyarakatnya.

Dari Tamim Ad-Daari radhiyallahu ‘anhu. Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda:

Agama itu nasihat, kami bertanya: untuk siapa? Beliau menjawab:
Untuk Allah, kitab-Nya,Rasul-Nya, untuk semua pemimpin kaum
muslimin dan untuk sernua manusia. (HR. Muslim 82).

Syaikh Ibnu Utsaimin berkata: “Pemimpin berkewajiban menasehati
rakyatnya, agar kembali ke jalan yang benar untuk memperoleh maslahat
dunia dan akhiratnya, yaitu jalan orang mukmin yang mengikuti jejak
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena dengan berpegang
jalan ini akan beruntung kehidupannya di dunia dan di akhirat, baik
untuk pemimpin dan juga untuk rakyatnya, lebih dari itu: pemimpin
akan disenangi oleh rakyatnya. Rakyat akan mudah taat kepada
peminpinnya, dan hendaknya pemimpin menunaikan amanat, karena
orang yang taat kepada Allah akan disegani oleh umat”.
(Lihat Huquq Da’ at Ilaiha Fithroh wa Qorroha As-Syariah hal. 33-34).

Mengenai makna "Ta'at dan "Ulil Amri" dikatakan :

MAKNA TAAT

Karena kita diwajibkan taat kepada Allah, Rasul-Nya dan pemimpin,
hendaknya kita memahami makna taat secara benar, agar kita tidak
salah memahami dan menerapkan makna taat.

Taat kepada Allah, maksudnya: Melaksanakan kewajiban dan mengikuti
kitab-Nya. (Lihat Tafsir Al-Alusi 5/65 dan Tafsir Ibnu Katsir 2/301).
Taat kepada Rasul-Nya maksudnya: Mentaati pada masa hidupnya,
mengikuti sunnahnya setelah

meninggal dunia dan mengikuti hukumnya. (Lihat Tafsir Tafsir Al-Alusi
5/65, Tafsir Ath-Thabari 5/93, Tafsir Ibnu Katsir 2/301).

Taat kepada pemimpin, maksudnya: Mentaati perintahnya selama tidak
maksiat, mentaatinya apabila menyuruh taat kepada Allah dan Rasul-Nya
dan mentaati tujuh perkara: perekonomian, takaran dan timbangan,
hukuman, Haji, shalat jum’at, shalat ied dan perang fi sabilillah. Sahl
menambahkan: “Jika pemimpin melarang orang alim berfatwa, hendaknya
tidak berfatwa bila dirasa dengan fatwanya akan membahayakan dirinya”.
(Lihat Tafsir As-Syaukani, Tafsir Ibnu Katsir 2/301, Tafsir Al-Qurthubi
5/258, Tafsir Al-Qurthubi 5/258).

MAKNA ULIL AMRI

Ulil amri menurut bahasa kita artinya yang memegang urusan,
atau pemimpin. Sedangkan ahli tafsir berbeda pendapat, ada
yang mengatakan:

1. Pemimpin negara (pendapat Ibnu Abbas, Abu Hurairah, As-Sudi,
Zaid bin Aslam).

2. Ulama, (pendapat Jabir bin Abdullah, Ibnu Abbas, Al-hasan,
Abul Aliyah Imam Malik).

3. Shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (pendapatnya Mujahid).

4. Sahabat Abu Bakar dan Umar bin Khothab (pendapatnya Ikrimah).

5. Ahli fikir yang mampu mengatur urusan manusia. (pendapatnya
Ibnu Kaisan), tetapi pendapat ini tidak punya dasar,

6. Shahabat Ali dan para imam ahli bait Ali, mereka ini imam maksum.
Pendapat ini adalah pendapat Syi’ah.

Pendapat ini keliru, karena tidak bersandar pada dalil.

Imam At-Thabari berkata: “Pendapat yang paling kuat ialah
pendapat pertama, pemimpin negara”. (Lihat Tafsir At-Thabari
5/93, Al-Qurthubi 5/258, As-Syaukani, dan Tafsir Al-Alusi 5/65).

Pendapat Imam At-Thabari ini lebih kuat, apabila dimaksudkan makna
ulil amri yaitu orang yang memiliki amanat dan tanggung jawab yang
lebih luas, karena didukung dengan hadits dari Abu Hurairah
radhiyallahu ‘anhu., Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Barangsiapa taat kepada pemimpinku, sungguh dia taat kepadaku
dan barangsiapa durhaka kepadapemimpinku, sungguh dia durhaka
kepadaku. (HR. Bukhari 6604).

Pendapat’yang kedua pun benar, karena ulama wajib ditaati
apabila memerintah kebaikan. Dalilnya:

Mengapa orang-orang alim mereka, pendeta-pendeta mereka tidak
melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram?
Sesungguhnya amat buruk apa yang telah mereka kerjakan itu.
(QS. Al-Maidah 63).

Adapun makna ulil amri secara umum ialah sebagaimana yang dikatakan
oleh Ibnu Utsaimin: “Ulil Amri ialah yang mengurusi kaum muslimin,
baik memimpin secara umum seperti kepala negara, atau memimpin
secara khusus seperti kepala instansi, pemimpin pekerjaan dan
semisalnya”. (Lihat Al-Huquq oleh Ibnu Utsaimin hal. 33
dan Murojaah Fi Fiqhil Waqi’ Siyasi wal Fikri hal. 9).
______________________________________________________

Kewajiban atau ketaatan sebagai ummat yang berada dibawah
pimpinan baik dalam arti khalifah/khusus maupun dalam arti
umum/pemimpin lingkup kecil/organisasi/keluarga/dll
_______________________________________________________

Dalam ajaran agama Islam, setelah sesorang terpilih jadi
pemimpin, apakah beliau pada akhirnya diketahui sebagai seorang
yang becus atau tidak sebagai orang yang bertanggungjawab atau
tidak, namun sebagai rakyar atau masyarakat yang dipimpin harus
tetap taat kepadanya dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu.

Terhadap hal ini situs :
http://maktabahabiyahya.wordpress.com/2012/08/28/kepemimpinan-dalam-islam/

Setelah kita memahami kewajiban imam, kita harus memahami
kewajiban umat pula. Kewajiban rakyat ini wajib dilaksanakan
sekalipun imam kurang memenuhi kewajiban dan persyaratannya,
karena kewajiban rakyat lain dengan kewajiban imam, rakyat tidak
memikul dosanya imam, tetapi rakyat berdosa bila mereka tidak
menjalankan kewajibannya. Adapun kewajiban umat yang harus
diperhatikan antara lain:

1.  Mentaati imam bila tidak memerintahmaksiat

Ibnu Katsir berkata: “Ayat diatas menjelaskan kewajiban rakyat
mentaati pemimpin apabila perintahnya benar, tetapi bila
perintahnya menyelisihi yang haq tidak boleh mentaatinya”.
(Lihat Tafsir Ibnu Katsir 2/203).

2. Mentati imam pada saat suka dan duka

Dari Abdullah radhiyallahu ‘anhu , Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda:

Wajib mendengarkan dan taat kepada pemimpin muslim dalam hal
yang disenangi dan yang dibenci, selagi tidak diperintah untuk
maksiat, tetapi bila diperintah maksiat, tidak boleh mendengar
dan mentaatinya. (HR. Bukhari 6611).

3. Mentaati imam sekalipun dia lebih mementingkan dirinya daripada 
  kepentingan umat

Dari Ubadah bin As-Shamit radhiyallahu ‘anhu. dia berkata:

Kami mendengar dan mentaati peminpin kami pada waktu kami
bersemangat dan benci, dalam keadaan sulit atau mudah, (walaupun
dia) mendahulukan kepentingan dirinya daripada kepentingan kami,
dan kami tidak akan mencabut urusan yang itu haknya.. Dia berkata:
Kecuali bila engkau melihat benar-benar pemimpin itu kafir, bagimu
punya bukti disisi Allah. (HR. Muslim 3427).

4. Wajib menasehati pemimpin bila salah, dengan tidak menyebarkan 
    aibnya dihadapan umat

Rasulullah   shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda:

Sebaik-baik jihad adalah kalimat yang benar dihadapan pemimpin
yang curang atau amir yang curang. (HR. Abu Dawud: 3781).

Adapun dilarang menyebarkan aib pemimpin di hadapan umat, kita
dapat melihat kembali sejarah Raja Fir’aun yang mengaku dirinya
sebagai tuhan, raja kekufuran dan kesyirikan, tetapi Allah menyuruh
Nabi Musa dan saudaranya Harun agar mendatangi Fir’aun dan
menasihatinya dengan lembut dan sopan.

Sabdanya pula :

Barangsiapa menasihati pemimpin, janganlah di depan umum,
tetapi datangi dia dengan menyepi, jika diterima (nasihat) maka
itulah yang diharapkan. Jika tidak menerima, dia telah
menunaikan apa yang menjadi kewajibannya.
_________________________________________________

Penutup :
Kepemimpinan dalam Islam dalam hubungannya 
dengan Pemilihan Presiden 2014
_________________________________________________





























Jelas dan cukup jelas bahwa UUD 45 da Pancasila adalah Dasar
Negara kita Indonesia ini, dan lewat dasar ini pula macam hal
yang berhubungan dengan "Pemilihan Presiden 2014" pun telah
ditetapkan.

Jelas dan cukup jelas pula lewat UUD 45 dan Pancasila macam
agamapun di Nusantara ini dibolehkan untuk di anut rakyatnya
dengan salah satunya "Agama Islam".

Dari kedua pengaturan tersebut jelas dan cukup jelas pula bahwa
agama Islam lewat metode pemilihan Pemimpinnya (cara memilih
pimpinan seperti uraian diatas), tidaklah dipakai dalam
memilih Presiden RI 2014.

Begitupun...!

Sebagai ummat yang beragama Islam, tentu "Calon pemimpin
penganut agama Islam dan rakyatnya penganut agama Islam juga
sepakat dan setuju untuk menetapkan pilihannya berdasarkan
kriteria agama dari calon pemimpin tersebut.

Artinya...!

Anda ummat islam pilihlah calon Presiden RI 2014 berdasarkan
ketaatannya pada ajaran agama Islam yang dengan sendirinya
pula tetap membuka mata pada pengetahuan atau kepintaran
lainnya dalam memajukan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Asumsi pribadi penulis :

"Ketaata beragama seorang calon Presiden akan berpengaruh
besar pada kesuksesan-kesuksesan program-program kerja
kpresidenan setelah beliau terpilih".

Alah maha kuasa, kuasa atas segalanya...!

Semoga Presiden terpilih Indonesia 2014 adalah Presiden yang
ketaatan beragamnya kuat, hingga beliau tidak saja untuk
pantas disebut sebagai Presiden juga cukup pantas disebut
sebagai khalifah.



















Ya Allah ya Tuhan kami, tunjuki kami pimpinan Negara Republik
Indonesia ini yang kemampuan memimpinnya mampu memudahkan
rakyatnya memenuhi kebutuhan pangannya, mampu menegakkan
keadilan untuk semua lapisan masyarakatnya, mampu mengangkat
derajat negara kami di mata dunia dan mampu menerangi jalan-jalan
kehidupan kami dari ketidak pahaman akan arti hidup

Ya Allah ya Tuhan kami, anugrahkan kemampuan Nabi besar kami
Nabi besar Muhammad Saw kepada para pemimpin kami untuk
dapat memimpin negara kami ini, seperti mampunya matahari dunia
kami memimpin ummat keluar dari kegelapan hidup dunia fana ini.

Amin...amin...amin ya robbal alamin...!

Wassalamu'alaikumwarahmatullahiwabarakatuh...!

________________________________________________________________
Cat :

No comments:

Post a Comment