Tuesday, May 12, 2015

Wisata Religi : Masjid Gedhe Kauman Jogja dalam 4 Rasa

#SELAMAT MALAM PARA KAUM MUSLIMIN MUSLIMAT#
(Menyimak info sekitar Masjid Agung Keraton Yogyakarta
atau Masjid Gedhe Keraton Yogyakarta dalam 4 rasa yaitu Nahdatul
Ulama, Rasa Muhammadiyah, Rasa Kraton Jogja dan rasa Dunia Barat)
____________________________________________________________








________________

Kata Pengantar
________________

Assalamu'alaikumwarahmatullahowabarakatuh...!

Maka sampailah penulis di Kota Wisata yang terkenal itu yaitu
Jogja atau Povinsi Yogyakarta di hari Kamis, 7 Mei 2015.

Setelah melakukan kunjungan ke Benteng...dan Kraton Jogja
maka penulispun melanjutkan wisata religi, sekaligus mengerjakan
sholat Ashar bersama keluarga di Masjid Gedhe Keraton Yogyakarta
yang memang jarannya hanya sekitar 100 meter dari Kraton tersebut.

video

Para kaum muslimin muslimat dimanapun berada...!

Postingan ini berisi "

1. Sekilas Masjid Agung Keraton Yogyakarta
  (Mesjid Gedhe Keraton Yogyakarta, sebagai
  hasil olah pengalaman berkunjung dan info-info
  internet.

2. Macam Hal Penting lainnya yang berhubungan dengan
   Mesjid Gedhe Keraton Yogyakarta, yang juga hasil
   pengalaman berkunjung dan olah info internet

...juga...!

3. Masjid Gedhe Keraton Yogyakarta dalam 4 rasa yaitu Nahdatul
   Ulama, Rasa Muhammadiyah, Rasa Kraton Jogja dan rasa Dunia Barat,
   sebagai hasil Pengalaman, Pemahaman dan Pemikiran (P3) pada
   saat mengunjungi mesjid tersebut.

Selamat menyimak...!
___________________________________________

1. Sekilas Masjid Agung Keraton Yogyakarta
   (Mesjid Gedhe Keraton Yogyakarta
___________________________________________







* Pemahaman Umum

Masjid Agung Keraton Yogyakarta adalah bangunan masjid yang didirikan
di pusat (ibukota) kerajaan. Bangunan ini didirikan semasa pemerintahan
Sultan Hamengku Buwana I.

Perencanaan ruang kota Yogyakarta konon didasarkan pada konsep taqwa.
Oleh karenanya, komposisi ruang luarnya dibentuk dengan batas-batas
berupa penempatan lima masjid kasultanan di empat buah mata angin
dengan Masjid Agung sebagai pusatnya.

Sedangkan komposisi di dalam menempatkan Tugu (Tugu Pal Putih) -
Panggung Krapyak sebagai elemen utama inti ruang. Komposisi ini
menempatkan Tugu Pal Putih-Keraton-Panggung Krapyak dalam satu poros.

* Luas Bagunan

Bangunan Masjid Agung Keraton Yogyakarta berada di areal seluas kurang
lebih 13.000 meter persegi. Areal tersebut dibatasi oleh pagar tembok
keliling. Pembangunan masjid itu sendiri dilakukan setelah 16 tahun
Keraton Yogyakarta berdiri.

* Lokasi dan Alamat

Mesjid Gedhe Keraton Yogyakarta
Jalan Alun-alun Utara, Gondomanan
Yogyakarta 55133, Indonesia

* Prakarsa Pendirian









Pendirian masjid itu sendiri atas prakarsa dari Kiai Pengulu Faqih
Ibrahim Dipaningrat yang pelaksanaannya ditangani oleh Tumenggung
Wiryakusuma, seorang arsitek keraton.

* Cara pembangunan







Ket : 
Tahap 1 (Ruang Solat Utama)








Ket :
Tahap 2 (Serambi)

Pembangunan masjid dilakukan secara bertahap. Tahap pertama adalah
pembangunan bangunan utama masjid. Tahap kedua adalah pembangunan
serambi masjid. Setelah itu dilakukan penambahan-penambahan bangunan
lainnya.

* Pembagian Ruangan

Bangunan Masjid Agung terdiri dari beberapa ruang, yaitu halaman masjid,
serambi masjid, dan ruang utama masjid. Halaman masjid terdiri atas
halaman depan dan halaman belakang. Halaman masjid merupakan ruangan
terbuka yang terletak di bagian luar bangunan utama dan serambi masjid.

Halaman ini dibatasi oleh tembok keliling. Sedang halaman belakang
masjid merupakan makam Nyi Achmad Dahlan dan beberapa makam lainnya..

* Arsitektur Masjid



video








1. Pintu - Pintu Masjid

Ada lima buah pintu yang dapat digunakan untuk memasuki halaman masjid.
Dua buah pintu terletak di sisi utara dan selatan. Sedangkan pada sisi
timur terdapat sebuah pintu yang berfungsi sebagai pintu gerbang utama.
Bentuk pintu gerbang yang sekrang ini adalah semar tinandu dengan atap
limasan.

2. Bangsal Prajurit

Pada kedua sisi gapura ini terdapat dua bangunan yang disebut bangsal
prajurit. Pintu gerbang dihubungkan dengan sebuah jalan yang membelah
halaman depan menjadi dua bagian. Jalan ini diapit dua buah bangunan
yang dinamakan pagongan.

3. Serambi











Ket :
Atas serambi


Bangunan serambi masjid dipisahkan dari halaman masjid. Bangunan
pemisahan itu berupa pagar tembok keliling dengan lima buah pintu
masuk. Pada sisi timur terdapat tiga buah pintu dan satu buah pada
sisi utara serta selatan.

Bangunan serambi ini juga dikelilingi dengan sebuah parit kecil (kolam)
pada sisi utara, timur, dan selatan. Tempat/bangunan yang digunakan
untuk berwudhu terdapat di sebelah utara dan selatan serambi.

Bangunan serambi masjid berbentuk denah empat persegi panjang. Serambi
didirikan di atas batur setinggi satu meter. Pada serambi ini terdapat
24 tiang berumpak batu yang berbentuk padma. Umpak batu tersebut
berpola hias motif pinggir awan yang dipahatkan. Atap serambi masjid
berbentuk limasan.

4. Ruang Sholat Utama










Pada sebelah barat serambi ini berdiri bangunan Masjid Agung yang
merupakan ruang utama salat. Ruangan masjid berbentuk denah bujur
sangkar. Bangunan Masjid didirikan di atas batur setinggi 1,7 meter.
Pada sisi utara masjid terdapat gedung pengajian, kamar mandi,
dan WC untuk pria. Sedang yang diperuntukkan bagi wanita berada
pada sisi selatan.

5. Mihrab










Mihrab berada pada dinding sebelah barat. Pada dekat mihrab terdapat
sebuah mimbar dan maksurah, masing-masing terletak di sebelah utara dan
selatan mihrab.

6. Mustaka








Atap tajug bertumpang tiga menutupi ruang utama Masjid Agung ini.
Pada puncak atap terdapat mustaka. Ketiga atap masjid ini didukung
oleh dinding tembok pada keempat sisi ruangan dan tiang berjumlah 36 buah.

Tiang-tiang tersebut berpenampang bulat tanpa hiasan (polos).
Ketiga puluh enam tiang tersebut terdiri atas empat buah saka guru, 12
saka rawa, dan 20 saka emper.

7.  Ruang Sholat Wanita


_____________________________________________________

2. Macam Hal Pentinglainnya yang berhubungan dengan
   Mesjid Gedhe Keraton Yogyakarta
_____________________________________________________

* Gempa 1867

Pada tahun 1867 terjadi gempa besar yang meruntuhkan bangunan asli
serambi Masjid Gedhe Kauman, lalu diganti dengan menggunakan material
yang khusus diperuntukkan bagi bangunan keraton.

* Muhammadiyah

Kawasan di sekitar masjid merupakan kawasan pemukiman para santri
ataupun ulama. Pemukiman tersebut lebih dikenal dengan nama Kauman
dan Suronatan. Dalam perjalanan sejarah Yogyakarta, kehidupan religius
di kampung tersebut menjadi inspirasi dan tempat yang kondusif bagi
tumbuh dan berkembangnya gerakan Muhammadyah pada tahun 1912 M yang
dipimpin oleh K.H.Ahmad Dahlan.
_____________________________________________________________________

3. Masjid Gedhe Keraton Yogyakarta dalam 4 rasa yaitu Nahdatul
   Ulama, Rasa Muhammadiyah, Rasa Kraton Jogja dan rasa Dunia Barat,
   sebagai hasil Pengalaman, Pemahaman dan Pemikiran (P3)
_____________________________________________________________________

Berikut yang dapat penulis sampaikan mengenai rasa tersebut :

1. Mesjid Gedhe Keraton Yogyakarta dalam rasa NU

Bagaimana penulis tidak merasakan seperti itu, soalnya arsitektur
masid tersebut masih sangat menggambarkan hal-hal yang berbau
budaya khususnya budaya Jogja.

Dan seperti kita ketahui...!

NU selalu berusaha menselaraskan antara ajaran Budaya dan
ajaran Agama Islam yang dalam istilah batak NU di sebut
"Adat pahombar Ugamo"

Berikut Photo pendukungnya :



2. Mesjid Gedhe Keraton Yogyakarta dalam rasa Muhammadiyah

Jelas rasa ini penulis rasakan karena Organisasi Muhammadiyah
 dari daerah Jogja inilah asal muasalnya. Tepatnya dari Masjid
 Gedhe Kauman Jogja ini.

   Berikut Photo pendukungnya :








3. Mesjid Gedhe Keraton Yogyakarta dalam rasa Kraton Jogja

   Jelas pula Kraton Jogja sejak dari awal berdirinya sampai sekarang,
   macam kegiatan agama di masjid ini masih berhubungan erat dengan
   macam kegiatan di kraton Jogja.

   Berikut Photo pendukungnya :




 



4. Mesjid Gedhe Keraton Yogyakarta dalam rasa Dunia Barat

   Bagaimana tidak dalam rasa Duia Barat, soalnya pada saat penulis
   kunjungi Masjid ini juga dikunjungi oleh orang barat yang tak
  penulis ketahui dan tak tanyakan pula apakah muhrim atau tidak
  orsng barat tersebut, atau apakah muslim.   Dalamsumsi penulis
  memang bukan Muslim.

   Orang barat ini sepertinya tidak tahu bahwa ke Masjid itu tidak
   boleh pakai sepatu. Dan jika bukannya pakai celana panjang ya
   pakai kain.

   Untung hal ini cepat di cegat oleh petugas parkir masjid, untuk
   kemudian memberikan kain pada yang laki-lakinya dan pada yang
   wanitanya memberikan penutup kepala.

   Setelah mereka duduk dan berdiskusi di ruang sholat utama
   masjid ini merekapun memotret macam Arsitektur Masjid tersebut
   untuk kemudian pulang.

   Berikut Photo pendukungnya dan entah apala yang ada di
   pikiran orang barat ini mengenai Masjid tersebut :








Ket :
Ternyata bukan hanya muslim saja yang merasa enak
tidur-tiduran di Masjid. Yang bukan muslimpun rupanya
merasa enak.

Wei...!
Bangun kau bos...!
Masjid itu tempat sholat, bukan tempat tidur.
Cape ya, yang wisata itu...!
_______________________________

Penutup (Kesimpulan dan Saran)
_______________________________

* Kesimpulan

1. Bagaimana artistik-nya pun suatu Masjid, tentu kita semua setuju
   para ummat muslim, bahwa tujuannya dibangunnya adalah sebagai
   tempat Sholat

2. Ke artistikan suatu masjid bukan saja dapat mencerminkan budaya
   dari wilayah tempat dibangunya masjid tersebut juga diharapkan
   keartistikan tersebut dapat mempengaruhi para masyarakat muslim
   untuk datang sholat ke Masjid tersebut.

3. Masjid tentunya kurang pantas jika kita mengolong-golongkannya
   berdasarkan mazhab, aliran atau organisasi umum dari pendiri
   atau masyarakat di lingkungan tersebut.

   Karena itu...!

   Kurang pantas pula jika kita para ummat muslim menyebut suatu
   masjid dengan sebutan Masjid NU, Masjid Muhammadiyah atau Masjid
   Syiah. Sebutan-sebutan ini akan sangat membatasi pelaksanaan
   ajaran agama Islam itu, khsusnya di bidang Sholat.

* Saran

1. Tak pala ada yang perlu penulis sarankan pada para DKM Masjid
   Ghede Kauman Jogja ini, kecuali pada masyarakat sekitarnya
   khsusnya mereka-mereka yang beraktifitas di Jl. Malioboro dan
   sekitarnya, untuk ikut serta meramikan masjid ini setiap saat.

2. Berhubung penulis ada masukan dari Masjid ini, sehubungan
   dengan adanya turis (Orang Barat / Non Muslim) yang masuk ke
  Masjid tersebut untuk keperluan study, maka penulis menyarankan
  agar masjid-masjid besar di Nusantara atau Masjid-masjid bersejarah
   di Nusantara agar menyediakan kain untuk diberikan pada turis
   tersebut jika mau masuk ke masjid untuk mengambil photo dari
   masjid tersebut (Sungug tak mungkin kita ummat muslim ini
melarang dengan keras agar ummat Non Mulim jangan masuk
Masjid. Apalagi dengan menembaknya atau mengadilinya-pen)

Dan sebagai penutup...!

Mohon ijin memperkenalkan, "Masjid Sri Alam Dunia Sipirok Mashali"
pada DKM, PHBI atau Remaja Masjid-nya Masjid Ghede Kauman Jogja.

Dan jika para kaum muslimin mulimat bertanya, bagaimanakah rasanya
Masjid Sri Alam Dunia Sipirok Mashali  ini, maka penulis ingin menjawab
Rasanya rasa NU.

Begitupun...!

Kurang lebih 400 meter dari masjid ini ada juga 2 Masjid lainnya yang
rasanya, rasa Muhammadiya. Dan orang kampung kimi bilang "Masojid
Muhammadiyah".

Ini Masjid MSAD-nya yang juga disebut "Masojid Islamiya = Masjid
Islam Dia = Dia itu Islam = Yang bukan Islammiya/Islam Dia, bukan Islam?  :

Ini Masjidnya :

video

...dan...

Wassalamu'alaikumwarahmatullahiwabarakatuh...!
 _______________________________________________________________
Cat :

No comments:

Post a Comment