Tuesday, September 29, 2015

Salman al-Farisi

* Biografi

Salman al-Farisi (Persia:.......................... adalah sahabat
Nabi Muhammad yang berasal dari Persia. Dikalangan sahabat lainnya ia
dikenal dan dipanggil dengan nama Abu Abdullah.




Sebagai seorang Persia ia menganut agama Majusi, tapi ia tidak merasa
nyaman dengan agamanya. Kemudian muncul pergolakan batin untuk mencari
agama yang dapat menentramkan hatinya. Pencarian agamanya membawa hingga
ke jazirah Arab dan akhirnya memeluk agama Islam Salman al-Farisi pada
ia mengawali hidupnya sebagai seorang bangsawan dari Persia, Ia menjadi
pahlawan dengan ide membuat parit dalam upaya melindungi kota Madinah
dalam pertempuran khandaq. Setelah meninggalnya Nabi Muhammad, ia dikirim
untuk menjadi gubernur di daerah kelahirannya, hingga ia wafat.

Dari Persi datangnya pahlawan kali ini. Dan dari Persi pula Agama
Islam nanti dianut oleh orang-orang Mu'min yang tidak sedikit jumlahnya,
dari kalangan mereka muncul pribadi-pribadi istimewa yang tiada taranya,
baik dalam bidang kedalaman ilmu pengetahuan dan ilmuan dan keagamaan,
maupun keduniaan.

Dan memang, salah satu dari keistimewaan dan kebesaran al-Islam ialah,
setiap ia memasuki suatu negeri dari negeri-negeri Allah, maka
dengan keajaiban luar biasa dibangkitkannya setiap keahlian,
digerakkannya segala kemampuan serta digalinya bakat-bakat terpendam
dari warga dan penduduk negeri itu, dokter-dokter Islam, ahli-ahli
astronomi Islam, ahli-ahli fiqih Islam, ahli-ahli ilmu pasti Islam
dan penemu-penemu mutiara Islam.

Ternyata bahwa pentolan-pentolan itu berasal dari setiap penjuru dan
muncul dari setiap bangsa, hingga masa-masa pertama perkembangan Islam
penuh dengan tokoh-tokoh luar biasa dalam segala lapangan, baik cita
maupun karsa, yang berlainan tanah air dan suku bangsanya, tetapi
satu Agama. Dan perkembangan yang penuh berkah dari Agama ini telah
lebih dulu dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam,
bahkan dia telah menerima janji yang benar dari Tuhannya Yang Maha
Besar lagi Maha Mengetahui.

Pada suatu hari diangkatlah baginya jarak pemisah dari tempat dan waktu,
hingga disaksikannyalah dengan mata kepala panji-panji Islam berkibar
di kota-kota di muka bumi, serta di istana dan mahligai-mahligai para
penduduknya.

Salman radhiyallahu 'anhu sendiri turut menyaksikan hal tersebut,
karena ia memang terlibat dan mempunyai hubungan erat dengan kejadian
itu. Peristiwa itu terjadi waktu perang Khandaq, yaitu pada tahun kelima
Hijrah. Beberapa orang pemuka Yahudi pergi ke Mekah menghasut orang-
orang musyrik dan golongan-golongan kuffar agar bersekutu menghadapi
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan Kaum Muslimin, serta mereka
berjanji akan memberikan bantuan dalam perang penentuan yang akan
menumbangkan serta mencabut urat akar Agama baru ini.

Siasat dan taktik perang pun diaturlah secara licik, bahwa tentara
Quraisy dan Ghathfan akan menyerang kota Madinah dari luar, sementara
Bani Quraidlah (Yahudi) akan menyerang-nya dari dalam—yaitu dari
belakang barisan Kaum Muslimin sehingga mereka akan terjepit dari
dua arah, karenanya mereka akan hancur lumat dan hanya tinggal
nama belaka.

Demikianlah pada suatu hari Kaum Muslimin tiba-tiba melihat datangnya
pasukan tentara yang besar mendekati kota Madinah, membawa perbekalan
banyak dan persenjataan lengkap untuk menghancurkan. Kaum Muslimin
panik dan mereka bagaikan kehilangan akal melihat hal yang tidak
diduga-duga itu. Keadaan mereka dilukiskan oleh al-Quran sebagai berikut:

Ketika mereka datang dari sebelah atas dan dari arah bawahmu, dan
tatkala pandangan matamu telah berputar liar, seolah-olah hatimu
telah naik sampai kerongkongan, dan kamu menaruh sangkaan yang bukan-
bukan terhadap Allah. (Q.S. 33 al-Ahzab:l0)

24.000 orang prajurit di bawah pimpinan Abu Sufyan dan Uyainah bin
Hishn menghampiri kota Madinah dengan maksud hendak mengepung dan
melepaskan pukulan menentukan yang akan menghabisi Muhammad
shallallahu 'alaihi wasallam, Agama serta para shahabatnya.

Pasukan tentara ini tidak saja terdiri dari orang-orang Quraisy,
tetapi juga dari berbagai kabilah atau suku yang menganggap Islam
sebagai lawan yang membahayakan mereka. Dan peristiwa ini merupakan
percobaan akhir dan menentukan dari fihak musuh-musuh Islam, baik
dari perorangan, maupun dari suku dan golongan.

Kaum Muslimin menginsafi keadaan mereka yang gawat ini, Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam-pun mengumpulkan para shahabatnya untuk
bermusyawarah. Dan tentu saja mereka semua setuju untuk bertahan dan
mengangkat senjata, tetapi apa yang harus mereka lakukan untuk bertahan itu?

Ketika itulah tampil seorang yang tinggi jangkung dan berambut
lebat, seorang yang disayangi dan amat dihormati oleh Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam. Itulah dia Salman al-Farisi radhiyallahu '
anhu!' Dari tempat ketinggian ia melayangkan pandang meninjau sekitar
Madinah, dan sebagai telah dikenalnya juga didapatinya kota itu di
lingkung gunung dan bukit-bukit batu yang tak ubah bagai benteng
juga layaknya.

Hanya di sana terdapat pula daerah terbuka, luas dan terbentang panjang,
hingga dengan mudah akan dapat diserbu musuh untuk memasuki benteng pertahanan.

Di negerinya Persi, Salman radhiyallahu 'anhu telah mempunyai pengalaman
luas tentang teknik dan sarana perang, begitu pun tentang siasat dan
liku-likunya.

Maka tampillah ia mengajukan suatu usul kepada Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam yaitu suatu rencana yang belum pernah dikenal oleh
orang-orang Arab dalam peperangan mereka selama ini. Rencana itu
berupa penggalian khandaq atau parit perlindungan sepanjang daerah
terbuka keliling kota.

Dan hanya Allah yang lebih mengetahui apa yang akan dialami Kaum
Muslimin dalam peperangan itu seandainya mereka tidak menggali
parit atas usul Salman radhiyallahu 'anhu tersebut.

Demi Quraisy menyaksikan parit terbentang di hadapannya, mereka
merasa terpukul melihat hal yang tidak disangka-sangka itu, hingga
tidak kurang sebulan lamanya kekuatan mereka bagai terpaku di kemah-
kemah karena tidak berdaya menerobos kota.

Dan akhirnya pada suatu malam Allah Ta'ala mengirim angin topan yang
menerbangkan kemah-kemah dan memporak-porandakan tentara mereka.
Abu Sufyan pun menyerukan kepada anak buahnya agar kembali pulang
ke kampung mereka ... dalam keadaan kecewa dan berputus asa serta
menderita kekalahan pahit ...

Sewaktu menggali parit, Salman radhiyallahu 'anhu tidak ketinggalan
bekerja bersama Kaum Muslimin yang sibuk menggali tanah. Juga
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ikut membawa tembilang dan
membelah batu. Kebetulan di tempat penggalian Salman radhiyallahu
'anhu bersama kawan-kawannya, tembilang mereka terbentur pada
sebuah batu besar.

Salman radhiyallahu 'anhu seorang yang berperawakan kuat dan
bertenaga besar. Sekali ayun dari lengannya yang kuat akan dapat
membelah batu dan memecahnya menjadi pecahan-pecahan kecil.

Tetapi menghadapi batu besar ini ia tak berdaya, sedang bantuan
dari teman-temannya hanya menghasilkan kegagalan belaka.

Salman radhiyallahu 'anhu pergi mendapatkan Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam dan minta idzin mengalihkan jalur parit dari garis
semula, untuk menghindari batu besar yang tak tergoyahkan itu.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pun pergi bersama Salman
radhiyallahu 'anhu untuk melihat sendiri keadaan tempat dan batu
besar tadi. Dan setelah menyaksikannya, Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam meminta sebuah tembilang dan menyuruh para shahabat mundur
dan menghindarkan diri dari pecahan-pecahan batu itu nanti....

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam lalu membaca basmalah dan
mengangkat kedua tangannya yang mulia yang sedang memegang erat
tembilang itu, dan dengan sekuat tenaga dihunjamkannya ke batu
besar itu. Kiranya batu itu terbelah dan dari celah belahannya
yang besar keluar lambaian api yang tinggi dan menerangi.

"Saya lihat lambaian api itu menerangi pinggiran kota Madinah",
kata Salman radhiyallahu 'anhu, sementara Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam mengucapkan takbir, sabdanya:

Allah Maha Besar! aku telah dikaruniai kunci-kunci istana negeri Persi,
dan dari lambaian api tadi nampak olehku dengan nyata istana-istana
kerajaan Hirah begitu pun kota-kota maharaja Persi dan bahwa
ummatku akan menguasai semua itu.

Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengangkat tembilang
itu kembali dan memukulkannya ke batu untuk kedua kalinya. Maka
tampaklah seperti semula tadi. Pecahan batu besar itu menyemburkan
lambaian api yang tinggi dan menerangi, sementara Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam bertakbir sabdanya:

Allah Maha Besar! aku telah dikaruniai kunci-kunci negeri Romawi,
dan tampak nyata olehku istana-istana merahnya, dan bahwa ummatku
akan menguasainya.

Kemudian dipukulkannya untuk ketiga kali, dan batu besar itu pun
menyerah pecah berderai, sementara sinar yang terpancar daripadanya
amat nyala dan terang temarang. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
pun mengucapkan la ilaha illallah diikuti dengan gemuruh oleh
kaum Muslimin. Lalu diceritakanlah oleh Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam bahwa dia sekarang melihat istana-istana dan
mahligai-mahligai di Syria maupun Shan'a, begitu pun di daerah-
daerah lain yang suatu ketika nanti akan berada di bawah naungan
bendera Allah yang berkibar. Maka dengan keimanan penuh Kaum Muslimin
pun serentak berseru: Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya ....
Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya.

_______________________________________________________________________
Cat :
PopCash.net PopAds.net - The Best Popunder Adnetwork PopCash.net

No comments:

Post a Comment